Terima Kasih Atas Kunjungannya Ash-Shiddiq Community

Search

Tampilkan postingan dengan label islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label islam. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Desember 2011

Allah sebagai Pelindung

Oleh : Prof. Dr. H. Yunahar Ilyas, Lc, M.Ag


Setelah Pemilihan Umum Pertama (1955), Hamka terpilih menjadi anggota Dewan Konstituante dari Masyumi mewakili Jawa Tengah. Setelah Konstituante dan Masyumi dibubarkan, Hamka memusatkan kegiatannya pada dakwah Islamiah dan memimpin jamaah Masjid Agung Al-Azhar, di samping tetap aktif di Muhammadiyah. Dari ceramah-ceramah di Masjid Agung itu lah lahir sebagian dari karya monumental Hamka, Tafsir Al-Azhar.

Zaman demokrasi terpimpin, Hamka pernah ditahan dengan tuduhan melanggar Penpres Anti-Subversif. Dia berada di tahanan Orde Lama itu selama dua tahun (1964-1966). Dalam tahanan itulah Hamka menyelesaikan penulisan Tafsir Al-Azhar.

Waktu menulis Tafsir Al-Azhar, Hamka memasukkan beberapa pengalamannya saat berada di tahanan. Salah satunya berhubungan de ngan ayat 36 Surah az-Zumar, “Bukan kah Allah cukup sebagai Pelindung hamba-Nya...”. Pangkal ayat ini menjadi perisai bagi hamba Allah yang beriman dan Allah jadi pelindung sejati.

Sehubungan dengan maksud ayat di atas, Hamka menceritakan pengalaman beliau dalam tahanan di Sukabumi, akhir Maret 1964. Berikut kutipan lengkapnya. “Inspektur polisi yang memeriksa sambil memaksa agar saya mengakui suatu kesalahan yang difitnahkan ke atas diri, padahal saya tidak pernah berbuatnya. Inspektur itu masuk kembali ke dalam bilik tahanan saya membawa sebuah bungkusan, yang saya pandang sepintas lalu saya menyangka bahwa itu adalah sebuah tape recorder buat menyadap pengakuan saya.”

“Dia masuk dengan muka garang sebagai kebiasaan selama ini. Dan, saya menunggu dengan penuh tawakal kepada Tuhan dan memohon kekuatan kepada-Nya semata-mata. Setelah mata yang garang itu melihat saya dan saya sambut dengan sikap tenang pula, tiba-tiba kegarangan itu mulai menurun.”

“Setelah menanyakan apakah saya sudah makan malam, apakah saya sudah sembahyang, dan pertanyaan lain tentang penyelenggaraan makan minum saya, tiba-tiba dilihatnya arlojinya dan dia berkata, Biar besok saja dilanjutkan pertanyaan. Saudara istirahatlah dahulu malam ini, ujarnya dan dia pun keluar membawa bungkusan itu kembali.

Setelah dia agak jauh, masuklah polisi muda (agen polisi) yang ditugaskan menjaga saya, yang usianya baru kira-kira 25 tahun. Dia melihat terlebih dahulu kiri kanan. Setelah jelas tidak ada orang yang melihat, dia bersalam dengan saya sambil menangis, diciumnya tangan saya, lalu dia berkata, Alhamdulillah bapak selamat! Alhamdulillah! Mengapa, tanya saya. Bungkusan yang dibawa oleh Inspektur M itu adalah setrum. Kalau dikontakkan ke badan bapak, bapak bisa pingsan dan kalau sampai maksimum bisa mati.

Demikian jawaban polisi muda yang ditugaskan menjaga saya itu dengan berlinang air mata. Bapak sangka tape recorder, jawabku sedikit tersirap, tetapi saya bertambah ingat kepada Tu han. Moga-moga Allah memelihara diri Bapak. Ah! Bapak orang baik, kata anak itu.

Dalam menghadapi paksaan, hinaan, dan hardikan di dalam tahanan, Hamka selalu berserah diri kepada Allah SWT. Termasuk ketika Inspektur M datang membawa bungkusan malam itu, Hamka tetap dengan pendirian. Bukankah Allah cukup sebagai pelindung hamba-Nya.

Read more »

Selasa, 22 November 2011

Buya Hamka, Pahlawan Berintegritas

Oleh : Prof. Dr. H. Azyumardi Azra

Profesor DR Haji Abdul Malik Karim Amrullah-dikenal akrab sebagai Buya Hamka (17/2/1908-24/7/1981)-agaknya bagi sebagian kalangan tidak begitu dikenal sebagai pejuang. Buya Hamka lebih dikenal sebagai sastrawan dan ulama, bukan sebagai pejuang bangsa. Akibatnya, Buya Hamka terlambat menerima gelar Pahlawan Nasional dari pemerintah RI. Baru menjelang Hari Pahlawan 10 November 2011 akhirnya ia mendapatkan penghargaan yang long overdue tersebut.

Meski demikian, rasa syukur patut diungkapkan atas penghargaan negara atas jasa-jasanya yang begitu lengkap dan kompleks dalam kehidupan umat bangsa Indonesia. Buya Hamka yang otodidak bergerak dalam berbagai lapangan kehidupan sejak dari kesusastraan, pendidikan, dakwah, politik, dan perjuangan melawan kebatilan kolonialisme pra dan pasca kemerdekaan, termasuk perjuangan menegakkan kebenaran pada masa Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto.

Like father like son
Baik dalam hal keulamaan maupun kejuangan, Buya Hamka banyak mengikuti ayahnya, Haji Abdul Karim Amrullah (10/2/1879-2/6/1945) atau Haji Rasul yang terkenal sebagai salah satu tokoh gerakan modernisme Islam pada dasawarsa awal abad ke-20. Selain terkenal sebagai ulama yang juga memiliki jaringan keilmuan dan aktivisme dengan ulama dan tokoh pergerakan nasional lain semacam HOS Tjokroaminoto dan KH Ahmad Dahlan, Haji Rasul termasuk ulama yang paling keras menentang Belanda dengan berbagai ketetapannya semacam 'Ordonansi Sekolah Liar' dan 'Ordonansi Guru'.

Karena itu, pada 12 Januari 1941 ia dijebloskan Belanda ke dalam penjara Bukittinggi dan Agustus 1941 ia dibuang ke Sukabumi. Selanjutnya, pada masa Jepang, Haji Rasul menolak melakukan 'seikerei', membungkukkan badan pada pagi hari ke arah matahari terbit (Jepang) untuk menghormati Kaisar Tenno Heika.

Seperti ayahnya, begitu jugalah sang anak (like father like son). Di tengah keterlibatannya yang intens dalam dunia kesusastraan, keilmuan dan keulamaan, Hamka juga mewujudkan aktivisme politik dan kejuangannya. Dan, ini bermula dengan keterlibatannya di Padangpanjang sejak 1925 dalam Sarekat Islam. Seperti dicatat Federspiel (2009), Hamka menceburkan diri ke dalam SI tidak lain karena ia melihat SI sebagai kekuatan sosial-keagamaan Islam yang tangguh menghadapi kolonialisme Belanda. Meski demikian, tidak banyak informasi tentang kiprah Hamka dalam SI.

Hamka yang sejak selesai bertugas sebagai Konsul Muhammadiyah di Makassar pindah ke Medan (1936) juga aktif dalam perjuangan melawan Belanda yang terbukti sedang menghadapi tahun-tahun akhir menguasai Indonesia. Dalam bukunya, Kenang-Kenangan Hidup (Jilid 4), Hamka menceritakan tentang kiprahnya pada masa ini, termasuk bergerilya di hutan sekitar Medan. Karena kegiatannya melawan Belanda ini, ia akhirnya merasa harus kembali ke Sumatra Barat pada 1945, sebab ia merasa lebih aman. Dan, di kampung halamannya, ia menjadi penghubung krusial di antara kaum ulama dan kelompok-kelompok pejuang lainnya.

Kiprah Hamka dalam perjuangan nasional sepanjang 1945-1949 kian meningkat berbarengan dengan terjadinya perang revolusi menentang kembalinya Belanda yang terus kian merebak di seluruh Tanah Air. Pada 1947, Hamka diangkat menjadi ketua Barisan Pertahanan Nasional dengan anggota Chatib Sulaeman, Udin, Rangkayo Rasuna Said, dan Karim Halim.

Selain itu, Hamka juga diangkat Wakil Presiden Mohammad Hatta sebagai sekretaris Front Pertahanan Nasional yang merupakan gabungan dari berbagai partai politik. Ketua front ini adalah Bung Hatta sendiri. Selanjutnya, Hamka membentuk Badan Pembela Negara dan Kota (BPNK) yang merupakan barisan perlawanan gerilya terbesar di wilayah Sumatra Barat. Hamka sendiri sangat aktif bergerilya dan hampir tidak pernah bisa ditemui di satu tempat tetap.

Mengapa Hamka begitu aktif dalam perjuangan kemerdekaan? Ini tidak lain berdasarkan pada prinsip pokok yang dia pegang. Hamka sangat meyakini bahwa kemerdekaan bangsa sangat mutlak dalam mewujudkan dan meninggikan kemerdekaan diri (self-independence), yang merupakan keutamaan dan kebajikan pokok bagi setiap Muslim-Muslimah. Kemerdekaan diri ini mestilah bersumber dari tauhid. Dan, sebaliknya, bagi Hamka, kemerdekaan bangsa bisa terwujud jika umat Islam memiliki kemerdekaan diri atas dasar tauhid tersebut. Dan, tanpa itu kemerdekaan bangsa akhir dapat hancur berkeping-keping.

Perjuangan dengan integritas
Aktivisme kejuangan Hamka dalam kancah nasional berlanjut ketika dia dalam Pemilu 1955 terpilih lewat Partai Masyumi sebagai anggota konstituante. Dan, lewat konstituante, Masyumi berjuang untuk menjadikan Indonesia sebagai negara Islam, yang terbukti gagal. Meski Hamka semula mendukung gagasan dan perjuangan untuk menjadikan Indonesia sebagai negara Islam, ia legowo dan selanjutnya menerima Pancasila sebagai dasar negara dan demokrasi sebagai sistem politik.

Tetapi, Hamka segera bersimpang jalan dengan Presiden Soekarno. Pertama, karena kian dominannya PKI. Dan, kedua, karena terus meningkatnya otoritarisme Soekarno. Ujungnya, pada 27 Agustus 1964 Hamka ditangkap dan dipenjarakan dengan tuduhan melakukan kegiatan subversi melawan rezim Soekarno. Pada saat yang sama, Majalah Panji Masyarakat yang dipimpinnya diberedel karena memuat artikel panjang Mohammad Hatta, "Demokrasi Kita", yang kritis terhadap demokrasi terpimpin ala Soekarno.

Hamka adalah pejuang dengan integritas. Dengan integritas, ia berani menyampaikan pesan kebenaran kepada penguasa-apa pun biaya yang kemudian harus ia bayar. Dan, dengan integritasnya itu pula ia menunjukkan bahwa sebagai ulama ia tidak dapat 'dibeli'-apalagi digertak.

Ini terlihat dalam pengalaman hidup Hamka pascakeluar dari tahanan seusai pergantian kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto. Hamka tidak lagi melibatkan diri dalam politik. Sebaliknya, menghabiskan waktunya dalam aktivisme dakwah, pendidikan, dan kepengarangan. Tetapi, pada 1975, ia menerima permintaan dari Presiden Soeharto untuk menjadi ketua umum Majelis Ulama Indonesia (MUI). Dan, pada saat yang sama ia menolak menerima fasilitas dari pemerintah atas posisinya tersebut. 

Adalah integritas diri yang membuat Hamka tidak bisa bertahan terlalu lama sebagai ketua umum MUI. 'Fatwa Natal' yang dikeluarkan MUI pada 7 Maret 1981 yang mengharamkan umat Islam ikut serta dalam 'Natal bersama' tidak disukai pemerintah karena dianggap dapat mengganggu kerukunan antarumat beragama. Buya Hamka menolak keinginan pemerintah-yang diwakili Menteri Agama Alamsjah Ratu Prawiranegara-untuk mencabut fatwa tersebut. Lalu, Hamka memilih mundur dari MUI daripada mengorbankan integritas keulamaannya.

Read more »

Rabu, 16 November 2011

Umat Yang Kekal

Oleh : M. Fuad Nasar., M.Sc
(Wakil Sekretaris Baznas)

Dalam satu riwayat disebutkan, seorang Yahudi datang kepada Khalifah Umar bin Khattab dan berkata, "Ada satu ayat yang telah diturunkan Allah kepada umat Muslim, andai kata ayat itu diturunkan kepada kami (Yahudi), pasti kami akan merayakannya pada hari diturunkannya."


Umar menanggapi, "Ayat manakah yang Anda maksud?" Yahudi itu menjawab, "Pada hari ini Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan Aku telah cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Aku telah meridai Islam sebagai agamamu." (QS al-Maidah [5]: 3). Umar berkata, "Demi Allah, sungguh saya mengetahui dengan pasti hari diturunkannya ayat tersebut. Diturunkan kepada Rasulullah SAW pada hari Jumat, hari Arafah, yang menjadi hari raya bagi seluruh kaum Muslimin di dunia tiap-tiap tahunnya." 

"Berpegang teguh kepada hukum Islam adalah suatu keharusan. Lebih dari itu Allah menjamin kesempurnaan hukum-hukum yang diberikan kepada umat Islam serta menjadikannya sebagai cahaya dan petunjuk. Maka, barang siapa yang menentangnya, pasti akan sesat dan buta hatinya untuk selamanya," tulis Sayyid Sabiq dalam Anashirul Quwwah Fil Islam.

Islam adalah risalah yang terakhir dan mengajarkan kebenaran dan tata nilai yang bersifat universal dan abadi, yang harus diyakini dan diamalkan setiap Muslim. Kebenaran Islam ini harus disebarkan dengan dakwah, bukan dengan jalan pemaksaan dan pengerahan kekuatan fisik. Islam tidak disebarkan dengan kekuatan pedang dan senjata, melainkan dengan kekuatan lidah dan keindahan amal perbuatan para juru dakwah. 

Islam mengajarkan, keseimbangan dan keselarasan antara kemajuan material dan spiritual. Ketakwaan kepada Allah dan amaliah umat, merupakan esensi hidup beragama. Sekiranya ajaran Islam itu dijalankan dengan baik oleh umatnya, maka takkan ada orang miskin yang telantar, tidak ada orang sakit yang tidak bisa berobat, dan tidak akan ada perpecahan, kebodohan, dan kejahatan kemanusiaan di kalangan umat Islam. Kata Syekh Muhammad Abduh, "Islam tertutup oleh umat Islamnya sendiri."

Dewasa ini kita menyaksikan posisi umat Islam yang lemah dalam percaturan politik global. Umat Islam sering kali dimanfaatkan dan dipermainkan oleh situasi yang dibikin oleh orang lain. Pada sebagian negara Muslim, tak jarang ditemukan campur tangan asing akibat ketidakmampuan umat Islam dalam mengelola rumah tangganya sendiri. Meski berada dalam tatanan masyarakat dunia yang multikultural, namun kita bisa menciptakan situasi yang kondusif untuk perkembangan dan hari depan agama ini. Bukankah umat Islam adalah umat terbaik (khaira ummah) yang dilahirkan untuk umat manusia? 

Umat Islam sebagai pemangku risalah Nabi Muhammad SAW adalah umat yang kekal sampai akhir zaman. Sebab, risalah Muhammad adalah risalah yang kekal. Salah satu doa Rasulullah yang dikabulkan oleh Tuhan, ialah umat Islam tidak akan punah dari muka bumi seperti yang dialami umat-umat terdahulu, seberapa pun kelemahan umatnya.

Namun demikian, kejayaan umat Islam dari masa ke masa bergantung pada ikhtiar dan upaya yang dilakukan oleh umat Islam sendiri. Pertolongan Allah akan datang jika umat Islam menjemputnya dengan ikhtiar yang tidak mengenal lelah. 

Wallahu a'lam.



Sumber : Hikmah Repuplika, 15 November 2011

Read more »

Revolusi Arab dalam Sorotan (II)

Oleh : Prof. Dr. H. Ahmad Syafii Maarif

Selanjutnya, dikatakan bahwa jika akan berlaku perubahan, pastilah secara bertahap, tidak radikal dan tidak revolusioner. "Satu-satunya jalan bagi sebuah perubahan, kami berpikir," tulis Stefan Weidner, "adalah melalui proses perubahan lamban, terpimpin, berawal dari pemerintah sendiri. Atau, karena tekanan dari luar. Di Barat, khususnya, terdapat semacam ketakutan bahwa ancaman terbesar terhadap rezim-rezim yang berkuasa adalah berupa kudeta akibat hasutan kaum ekstremis Muslim. Tak seorang pun percaya bahwa revolusi demokrasi (akan berlaku), seperti yang terjadi di Eropa pada 1989."

Menurut bacaan saya, para pengamat Barat bukan hanya sekarang saja salah hitung. Sekitar tahun 1978, Iran (yang bukan Arab) di bawah Shah Reza Pahlevi sebagai sekutu utama Amerika, masih saja dinilai sebagai sebuah pulau damai di tengah empasan gelombang dahsyat. Apa yang terjadi setahun kemudian adalah terjungkalnya rezim otokratik Pahlevi ini melalui sebuah perubahan radikal yang dipimpin oleh Ayatullah Khomeini, tokoh spiritual Iran yang sebelumnya berada dalam pengasingan di Prancis.

Dunia Barat dan Israel menjadi kalang kabut, tetapi apa mau dikata karena rakyat berada di belakang perubahan mendasar itu. Sejak saat itu, sebenarnya pengaruh Barat telah mulai tersingkir dari kawasan itu. Bedanya, Iran mendahului, sedangkan bangsa-bangsa Arab harus menunggu 30 tahun kemudian atau 10 tahun pasca-Tragedi 9/11 yang kemudian mengubah peta hubungan Barat dengan dunia Arab khususnya, dan dengan dunia Islam umumnya.

Dalam Fikrun wa Fann nomor 95 ini, telah tampil beberapa penulis Arab, Iran, Pakistan, dan Afghanistan yang menyoroti secara kritikal perubahan yang tengah berlaku di negerinya masing-masing akibat Tragedi 9/11 pada 2001. Penulis Aatish Taseer menggambarkan Pakistan sebagai negara yang amat terkena dampak Tragedi 9/11. Penulis perempuan Irak dari Amerika Yasmeen Hanoosh melaporkan pengalaman pribadinya pascaserangan atas Menara Kembar New York itu.

Sarjana keislaman Sonja Hegasy menulis tentang perubahan-perubahan negatif terhadap citra Islam di Barat, terutama di Jerman pasca-Tragedi 9/11. Penulis Arab Saudi Ahmad al-Wasel  memetakan secara garis besar tentang perubahan yang berlaku di Saudi akibat Tragedi 9/11 itu. Teolog Iran Hasan Yousefi Eshkevari dan penulis Lebanon Alawiyyah Sobh mengupas bahaya Islam politik jika dijajarkan dengan pemahaman damai terhadap agama.

Penulis Iran dalam pengasingan, Bahman Nirumand dan Abbas Maroufi, membuat laporan tentang perubahan yang terjadi di Iran. Kemudian, wartawan dan novelis Irak ternama, Ali Badr, menggambarkan betapa sulitnya menjadi Arab atau Muslim pasca-Tragedi 9/11 yang menghebohkan itu.

Taqi Akhlaqi, penulis Afghanistan, membeberkan penderitaan rakyat Afghanistan, khususnya perempuan akibat perang yang dipaksakan Barat atas negeri miskin itu. Di bagian ujung artikelnya, Akhlaqi menulis: "Perempuan Afghan memberikan pengorbanan luar biasa dalam mengasuh anak-anaknya dan harapan mereka terletak pada masa depan anak-anaknya. Mereka ingin kebahagiaan bagi anak-anaknya, menolong mereka untuk melupakan kepahitan masa lampau. Akankah anak-anak mereka punya masa depan yang lebih baik daripada mereka?"

Di samping para penulis Arab, Iran, Pakistan, dan Afghanistan di atas, masih ada beberapa penulis Barat lain yang mengupas akibat buruk dari Tragedi 9/11 yang sebelumnya telah memberikan sorotan awal atas Revolusi Arab yang tak terbayangkan sebelumnya. Jika Revolusi Arab tidak meledak, Fikrun wa Fann tampaknya hanyalah akan mengurai akibat Tragedi 9/11 atas dunia Arab dan Islam. Dengan revolusi ini, cakupan isinya menjadi lebih luas, tidak lagi dibatasi oleh dampak Tragedi 9/11, sebagaimana yang akan dibicarakan lebih jauh, di mana peran para sastrawan dan intelektual juga tidak kecil.

Sumber : Resonansi Repuplika, 15 November 2011

Read more »

Konsep Haqiqi Ilmu

Oleh : Rina Mulyani
(Aktivis BEM-J UIN Sunan Kalijaga)


Kedudukan ilmu menempati posisi yang sangat tinggi. Tak satu  pun aktifitas di dunia ini yang nihil dari landasan ilmu. Segala aktifitas yang dijalankan manusia membutuhkan peran ilmu. Dari manusia bangun tidur hingga kemudian tidur kembali, ilmu selalu menunjukkan eksistensinya. Bahkan mencuri, mencopet, perbuatan sebaik dan seburuk apa pun semuanya menggunakan kaidah ilmu untuk menerapkannya. Sehingga begitu urgensinya  sebuah ilmu, Allah mewajibkan para hambaNya untuk selalu menuntut ilmu. Perintah tersebut termaktub dalam sabda Rasulullah yang artinya “ Wahai muslim laki-laki dan muslim perempuan  wajib di atas kalian untuk menuntut ilmu dari buaian hingga liang lahat”, selanjutnya janji Allah dalam firmanNya, Q.S Al mujaadilah: 1l dikutip bahwa “Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang berilmu”.

Para ulama’ salaf al-shalih telah menuangkan konsep ilmu dalam beberapa karyanya. Imam Al-Ghozali dalam Ihya’ Ulum al-Din dan Bidayatul Hidayah menguraikan secara mendalam pentingnya memahami konsep ilmu dengan baik. Menurut Hujjatul Islam Imam Al ghazali, orang yang menuntut ilmu itu ada tiga macam: Pertama, orang yang menuntut ilmu semata-mata karena ingin mendapatkan bekal pulang menuju akhirat. Kedua, orang yang belajar dengan niat mencari sesuatu untuk  menopang kehidupan duniawi, dan memperoleh kemuliaan serta jabatan hormat. Ketiga, orang yang menjadikan ilmunya sebagai sarana memperbanyak harta, bermegah-megahan dengan kedudukan, berbangga-bangga dengan banyaknya pengikut, mengaku ulama dan tidak merasa perlu bertaubat, karena menganggap dirinya muhsinun (orang-orang baik) (Lihat Bidayatul Hidayah).

Tingginya pengagungan yang  Allah berikan untuk orang-orang yang berilmu hingga dikatakan bahwa Allah lebih mencintai orang-orang ahli ilmu dari pada orang-orang yang ahli ibadah. Hal ini menjadi bukti konkrit betapa Allah menomor satukan orang yang mencari ilmu dan yang berilmu serta menggunakan ilmu yang dimilikinya dengan baik. Melihat peran ilmu itu sendiri, tentu pencapaiannya juga memiliki strategi, memiliki tujuan, dan kualifikasi masing-masing. Untuk dapat mencapai derajat yang tinggi diperlukan perjuangan yang tidak mudah. Untuk dapat merasakan manfaat ilmu juga memerlukan jalan bagaimana kemudian ‘proses’ mengantarkannya pada tercapainya ilmu yang sedang digali.

Kurang etis rasanya, jika mencari ilmu dilakukan secara asal-asalan. Sesuatu yang dicari dengan jalan asal-asalan tentu juga akan menghasilkan sesuatu yang asal-asalan.“Nurul ilmi” _cahaya ilmu _, dan cahaya itu akan mampu menembus serta bersinar ketika “hati” sebagai penopang utama cahaya tersebut dalam keadaan bersih. Ilmu akan mudah tertancap, saat niat awal kita mencarinya adalah menghilangkan kebodohan dengan tetap menjaga keseimbangan yakni “ menjaga kesucian hati”.

Tidak mudah memang untuk selalu istiqomah menjaga kesucian  hati ini. Ribuan bahkan jutaan godaan akan datang dengan silih berganti. Makhluk Allah (baca syetan dan balatentaranya) yang telah bersumpah akan mengganggu manusia hingga isyrofil menerima titah Allah untuk meniupkan sangkakalanya sebagai tanda awal goncangnya alam semesta ini akan selalu mencari celah bagaiamana kemudian kita tergelincir menjadi sekawannya. Perkara yang tidak mudah ini membutuhkan keteguhan, niat, serta konsistensi yang kuat terutama dari dalam diri kita sendiri. Semuanya memang pilihan, dan hanya orang-orang terpilihlah yang akan memilih pilihan sesuai dengan pilihan yang ditetapkan Allah sebagai pilihan yang diutamakan. Petunjuk itu selalu ada, telah disediakan Allah. Petunjuk untuk selalu menjaga hati, petunjuk untuk senantiasa ada dalam lingkaran aturanNya, petunjuk untuk senantiasa berada dalam garis vertikal yang tertuju hanya kepada Allah, sehingga mudah bagi kita menerima ilmu-ilmuNya yang secara jelas memberi kesempatan luas pada kita untuk mendapatkannya.

Batapa meruginya kita, jika tidak dapat memanfaatkan kemudahan-kemudaan yang Allah sediakan untuk kita. Seluas butir pasir di lautan, sebanyak lembar daun di muka bumi ini, demikian analogi luasnya ilmu Allah. Tidak ada batasan untuk kita terus mencarinya. Konsep ilmu pada pilihan nomor satu sebagaimana yang dipaparkan Al-Ghozali di atas harusnya menjadi acuan, untuk apa kita mencari ilmu. Selain tuntutan untuk menjaga hati, syarat lain berdasar kutipan sya’ir dalam kitab “Alala tanalul ‘ilmi” hal 2 bait ke 2 yang ditulis Muhammad Ibnu Ahmad adalah :

“dhuka’in wakhirsin was tibaarin wa bulghotin wairsyadi ustazdin wa tulizamaani”

yang jika dirtikan secara keseluruhan syarat pencari ilmu adalah: cerdas, semangat, sabar, memiliki sangu/ bekal, memiliki guru, dan dalam jangka waktu yang lama. Cerdas yakni mengetahui gaya belajar yang sesuai dengan dirinya, semangat untuk terus mencari yang belum diketahuinya, sabar terhadap setiap rintangan yang menghadangnya, sangu/ bekal (baik yang berwujud materi/uang maupun yang lain) pepatah jawa mengatakan “jer basuki mowo beyo” segala sesuatu membutuhkan biaya. selanjutnya semiliki guru artinya menuntut ilmu yang baik memang seharusnya bersama dengan seorang guru, walau tidak jarang belajar secara otodidak juga mampu membuahkan hasil, akan tetapi lebih efektif jika belajar diikuti dengan adanya seorang guru, karena ketika nanti menemui kesulitan akan lebih mudah memecahkan karena berhubungan langsung dengan ahlinya. Terakhir, dalam waktu yang lama artinya , belajar hendaknya ditempuh dalam waktu yang terus menerus, seperti yang sudah disampaikan  di atas, bahwa ilmu Allah itu sangat luas, tidak ada habisnya, agar optimal maka masa yang dipakai pun juga dalam hitungan yang tidak singkat.

Demikian. mari kita cari kunci kehidupan untuk meraih kehidupan selanjutnya. Mencarinya dengan jalan yang telah ada dalam undang-undang Allah untuk menempatkan peran kita sebagai kholifatullah yang sudah sangat pasti pertanggungjawabannya akan kita haturkan di pengadilanNya kelak.

Wallohu’alam bishowab….



Read more »

Komentar